SELAMAT DATANG DI JOGJACULTURAL, ANDATELAH MENEMUKAN TEMPAT YANG TEPAT UNTUK MEMPEROLEH INFORMASI DINAMIKA BUDAYA YANG ADA DI JOGJA, KAMI HADIR UNTUK MENAMBAH KHASANAH INFORMASI BUDAYA DEMI KEMAJUAN BUDAYA DI JOGJAKARTA

2/25/12

Penghayat Kepercayaan : Realitas Sosial di Masyarakat


DINAMIKA KEBERADAAN HPK DI YOGYAKARTA
I.            Pendahuluan
            Yogyakarta sebagai kota budaya tidak dapat dilepaskan dari adanya nilai-nilai budaya yang masih dihargai dan dijunjung tinggi masyarakatnya . Nilai-nilai budaya tersebut masih cukup mewarnai keharmonisan dan keberlangsungan hidup masyarakatnya. Sehingga tidak salah apabila Daerah Istimewa Yogyakarta ( DIY ) telah menetapkan visi pembangunannya sebagai pusat pendidikan, budaya dan tujuan wisata terkemuka di Asia Tenggara dalam lingkungan masyarakat yang maju, mandiri dan sejahtera yang diharapkan dapat  tercapai pada tahun 2025.
            Nilai-nilai budaya Jawa yang ada di Yogyakarta sangat kondusif untuk menumbuhkan keharmonisan antar berbagai elemen  yang ada di dalam masyarakat. Salah satu hal yang dapat kita temui adalah keharmonisan para Penghayat Kepercayaan  dalam menjalani  kehidupan  spiritualnya dan adanya saling menghargai  antar sesamanya. Keharmonisan para Penghayat, baik sesama penghayat maupun antar elemen masyarakat lainnya karena pada dasarnya  ada suatu nilai-nilai kebersamaan dan saling menghargai diantara berbagai unsur  yang ada dalam masyarakat tersebut.
            Gejolak-gejolak yang muncul dalam masyarakat di Yogyakarta yang berkaitan dengan keberadaan  para penghayat (HPK) dapat dikatakan tidak menimbulkan masalah sehingga sangat mendukung eksistensi  dan keberadaan HPK yang ada . Data yang ada di Dinas Kebudayaan Provinsi DIY pada tahun 2005, jumlah organisasi Penghayat ada sekitar 80 organisasi yang tersebar di tingkat kabupaten / kota . Namun setelah dilakukan pada Tahun 2011 diperkirakan  mengalami penurunan / penyusutan karena  keberadaan tokoh yang  mendirikan oganisasi / dituakan organisasi meninggal dunia sehingga ketiadaan estafet kepemimpinannya  dalam organisasi HPK tersebut.




Kunjungan Studi Penelitian 
Rombongan Diklat Peningkatan SDM Bidang Kepercayaan 
ke HPK Budi Daya, Lembang, Bandung, Tahun 2011
Cisarua 16-20 Oktober 2011











II.          Dinamika Keberadaan  HPK di Yogyakarta
Kepercayaan Ttrhadap Tuhan Yang Maha Esa sebagai wujud budaya spiritual adalah warisan kekayaan rohaniah yang dianut oleh sebagian bangsa kita. Kepercayaan terhadap Tuhan YME merupakan warisan leluhur nenek moyang kita  yang diyakini kebenarannya  dan dilaksanakan penghayatannya dengan kesadaran yang utuh oleh penghayatnya.
Berdasarkan pengamatan dilapangan, kami membuat pengklasifikasian tentang gambaran Penghayat yang ada di masyarakat khususnya di Yogyakarta yaitu :
1.     Penghayat yang menganggap Organisasi Penghayat / ajaran HPK sebagai alat untuk menyempurnakan budi pekerti ( olah rasa ) , sehingga kelompok ini biasanya masih meyakini dan menjalankan agama tertentu yang masih diyakininya.
2.     Penghayat yang berusaha mengikuti ajaran HPK untuk menyempurnakan  budi pekerti berdasarkan ajaran penghayat tapi belum berani menunjukkan identitas Penghayat  meski mereka tidak menjalankan ajaran agama yang diyakininya.
3.     Penghayat yang secara terang-terangan menunjukkan identitas jati diri penghayat dan menjadikan Kepercayaan sebagai pedoman hidup dan pengganti agama yang dianutnya, jadi identitas keagamaannya tidak dicantumkan dalam identitas kependudukan dan berusaha menerapkan ajaran HPK dalam segala aspek kehidupannya.
Organisasi HPK yang tersebar di 4 Kabupaten dan 1 Kotamadya mengalami pasang surut. Dinas Kebudayaan Provinsi DIY yang mempunyai tugas pokok dan fungsinya sebagai lembaga dalam pemerintahan yang membina keberadaan organisasi tersebut telah berupaya semaksimal mungkin  memberikan  pembinaan  dan fasilitasi . Hal tersebut terbukti bahwa pada tahun anggaran 2010 Dinas Kebudayaan DIY telah mengadakan sarasehan sebanyak 4 kali  yang diadakan setiap 3 bulan sekali dengan memberikan kesempatan kepada organisasi penghayat untuk memaparkan ajaran-ajarannya sehingga diharapkan diantara mereka timbul rasa saling memahami dan menghargai berbagai macam perbedaan diantara mereka.
Dalam kesempatan yang telah kami berikan kepada organisasi HPK  dan berdasarkan masukan-masukan yang muncul maka dapat ditarik kesimpulan  tentang keberadaan HPK yang ada di Yogyakarta yaitu :
1.     Hidup matinya organisasi HPK ( terutama yang masih bersifat local / bukan cabang ) sangat dipengaruhi oleh keberadaan tokoh sentral / pendiri. Sehingga pada umumnya dengan meninggalnya tokoh yang dituakan dalam organisasi tersebut mempengaruhi keberlangsungan organisasi tersebut.
2.     Kurang adanya suatu media / sarana perkumpulan untuk menyatukan mereka dalam suatu wadah yang lebih besar atau kurang maksimalnya  wadah yang telah dibentuk untuk dapat dijadikan media yang dapat memberikan solusi apabila ada masalah yang muncul. Hal tersebut dirasa penting karena selama ini, intensitas kebersamaan diantara para penghayat lebih banyak bersifat internal dalam organisasi penghayat yang sama.
3.     Perlu adanya upaya pembinaan manajemen organisasi yang dapat dijadikan pegangan  bagi para Penghayat  dalam berorganisasi  sehingga keberadaan / eksistensi Penghayat akan drkan aturan apat selalu eksis  di tengah masyarakat berdasarkan aturan perundangan yang berlaku. Berdasarkan pengecekan di lapangan menunjukkan bahwa banyak organisasi Penghayat yang tidak mendaftarkan sebagai suatu organisasi kemasyarakatan  sebagaimana UU No. 8 tahun 1985, sehingga aspek legalitas  organisasi Penghayat sebagai suatu organisasi yang kuat secara hukum masih banyak yang belum melakukan.


III.        Penutup
Penghayat Kepercayaan yang ada di Yogyakarta yang merupakan  aset dari kekayaan  budaya  yang berkaitan  dengan sistem religi seyogyanya harus mendapatkan  perhatian.  Dengan demikian sudah seharusnya  pihak-pihak yang terkait untuk melakukan  pembinaan terhadap organisasi kepercayaan  tersebut. Dengan adanya upaya pembinaan  tersebut diharapkan segala bentuk  permasalahan  yang muncul demi kelangsungan hidup organisasi  akan dapat berjalan secara maksimal. Dengan demikian nilai-nilai  spiritual yang merupakan warisan budaya  akan dapat dipertahankan sehingga dapat memberikan kontribusi / sumbangan bagi ketahanan budaya yang ada di Yogyakarta.( Jogjacultural :2012 )