SELAMAT DATANG DI JOGJACULTURAL, ANDATELAH MENEMUKAN TEMPAT YANG TEPAT UNTUK MEMPEROLEH INFORMASI DINAMIKA BUDAYA YANG ADA DI JOGJA, KAMI HADIR UNTUK MENAMBAH KHASANAH INFORMASI BUDAYA DEMI KEMAJUAN BUDAYA DI JOGJAKARTA

4/15/13

ASPEK KOREOGRAFI DALAM UPACARA ADAT: SEBUAH STUDI DALAM UPACARA BEKAKAK

-->

oleh Martinus Miroto
(Seminar-workshop Desa Bina Budaya, 18 Mei 2010)

-->
Marilah kita amati foto di atas. Sebuah adegan penyembelihan boneka pengantin pria yang terbuat dari tepung beras ketan dan dilengkapi ‘darah’ yang terbuat dari sirup gula kelapa dalam upacara Bekakak yang juga disebut Upacara Saparan Gamping. Setelah didoakan, leher ‘pengantin’ digorok dengan keris dan ‘darah’pun tertumpah membasahi lantai altar. Tidak hanya sampai di situ. Tubuhnya pun dipotong-potong, disebar ke berbagai penjuru, diperebutkan para pengunjung untuk dibawa pulang sebagai berkah. Dramatis bukan? Mengapa upacara perlu dramatis? Perlukah menggarap aspek koreografi dalam upacara adat?


-->
PENDAHULUAN

Koreografi adalah seni menata gerak. Salah satu sumber penataan gerak adalah fenomena upacara adat yang dilakukan masyarakat tertentu. Misalnya upacara Bekakak di Gamping. Kirap atau arak-arakan boneka pengantin (Bekakak) dan Gendruwo yang disertai seni Jathilan dll, merupakan salah satu aspek koreografi. Sedangkan adegan dramatis yang cukup mencengangkan adalah saat menyembelih Bekakak.
Upacara Bekakak terjadi karena factor realitas masyarakat Gamping dalam mengatasi rasa takut terhadap ‘kekuatan yang tidak nampak’ pada abad 17.  Dalam perkembangannya, uapacara ini direka sehingga menjadi ‘seni’ pertunjukan yang unik yang mengandung aspek koreografi dan drama.
Menggarap koreografi dan drama dalam upacara, koreografer  atau sutradara perlu memahami asal – usul upacara itu sendiri.Misal, mengapa dalam Upacara Bekakak  perlu ada simbol korban? Mengapa disertai Gendruwo dalam arak-arakan?

I. Kisah Terjadinya Upacara Bekakak.
Dapat dibayangkan, pada abad 17, di Gunung Gamping belum ada lampu dan listrik yang menerangi jalan yang gelap pada malam hari. Tentu orang merasa takut dan merinding jika melewati jalan-jalan yang gelap gulita dimalam hari. Saat itu pula naluri transendental muncul: orang mohon kepada ”Kekuatan Yang Tidak Nampak” agar tidak terjadi apa-apa saat melintasi jalan tersebut.  Ditambah ceritera tentang mahkluk halus  yang menakutkan: Gendruwo, Wewe, Banaspati, Wedhon, Thuyul, Glundhung pringis, Dhemit, Setan, Peri, Jrangkong, Ting ijo, dll.
Suasana saat itu menjadi lebih menakutkan ketika pada bulan Sapar tiba-tiba Gunung Gamping runtuh dan memakan korban Ki Wirosuto dan keluarganya. Berita kematian Ki Wirosuto tersebar ke seluruh wilayah Gamping. Ki Wirosuto dipercayai menjadi korban keganasan mahkluk halus di Gunung Gamping. Hal ini mengakibatkan ketakutan masyarakat Gamping yang hidup dari penggalian dan pembakaran batu kapur dari Gunung Gamping.
Untuk melawan rasa takut untuk melanjutkan pekerjaan menambang batu kapur di Gunung Gamping, masyarakat Gamping menciptakan kurban yang disebut Bekakak. Bekakak berarti korban penyembelihan hewan atau manusia. Bekakak pada saparan ini hanya tiruan manusia saja, berujud boneka pengantin dengan posisi duduk bersila yang terbuat dari tepung ketan. Dalam rangkaian upacara ini, Bekakak digorok lehernya sebagai kurban. Keunikan prosesi upacara ini juga muncul dengan diwujudkannya boneka rasaksa Gendruwo dan Wewe yang selalu menjadi daya tarik kirap sepanjang 5km.
Upacara Saparan ini tergolong rumit dan kolosal yang melibatkan aspek ritual, seni, dan social. Namun demikian, tulisan ini akan membatasi pembahasan mengenai aspek koreografi dan dramaturgi dalam Upacara Bekakak yang barangkali dapat memicu diskusi lebih luas dalam mengamati seni upacara di berbagai tempat di Yogyakarta.

II. Upacara Bekakak: Peninggalan Seni / Budaya Primitif?
Berdasarkan data yang diperoleh dari internet, seni primitif merupakan hasil karya manusia yang selalu berkaitan dengan alam, binatang, burung, dan upacara persembahan.  Seni primitive bertujuan untuk berkomunikasi dengan kekuatan yang tidak nanpak (communicating with unseen forces) dan menciptakan sesuatu yang misterius menjadi lebih konkrit dalam kehidupan (Makes mysterious more real life). (www.csuchico.edu)
Mengacu pada teori di atas, setidaknya ada tiga hal yang mendukung bahwa Upacara Bekakak merupakan produk budaya primitive: 1. Upacara Bekakak berkaitan dengan upacara persembahan. 2. Upacara Bekakak diselenggarakan dengan tujuan untuk berkomunikasi dengan ‘kekuatan yang tidak nampak’. 3. Rangkaian Upacara Bekakak menyajikan sesuatu yang misterius menjadi lebih konkrit dalam kehidupan.

  1. Upacara Bekakak berkaitan dengan persembahan yang diwujudkan lewat sesaji.
Dalam upacara ini dipersembahkan berbagai macam rangkaian sesaji.:
    1. Sesaji untuk pelangkap upacara Sugengan Ageng
Sesaji ditaruh di dalam sudhi, gelas, kemudian ditaruh di atas jodhang antara lain sekul wajar (nasi ambeng) dengan lauk pauk: sambel goreng waluh, tumis buncis, rempeyek, tempe garing, bergedel, entho-entho dan sebagainya, sekul galang lutut, sekul galang biasa, tempe rombyong yang ditaruh dalam cething bambu, tumpeng megana, sanggan (pisang raja setangkep), sirih sepelengkap, jenang-jenangan, rasulan (nasi gurih), ingkung ayam, kolak, apem, randha kemul, roti kaleng, jadah bakar, emping, klepon (golong enten-enten), tukon pasar, sekar konyoh, kemenyan, jlupak baru, ayam hidup, kelapa, sajen-sajen tadi ditempatkan dalam sudhi lalu semuanya diletakkan dalam lima ancak, dua ancak diikutsertakan dalam jali dibagikan kepada mereka yang membuat kembar mayang, bekakak dan yang menjadikan tepung (glepung) sementara itu disiapkan pula burung merpati dalam sangkar.

    1. Sesaji untuk Bekakak
Dua bagian yang lain, masing-masing diletakkan di dua jali tempat dua pasang pengantin bekakak. Macam-macam sesajen yang diletakkan bersama-sama pengantin bekakak antara lain nasi gurih (wuduk) ditempatkan dalam pengaron kecil: nasi liwet ditempatkan dalam kendhil kecil beserta rangkaiannya daun dhadhap, daun turi, daun kara yang direbus, telur mentah dan sambal gepeng: tumpeng urubing dhamar, kolak kencana, pecel pitik, jangan menir, urip-uripan lele, rindang antep, ayam panggang, ayam lembaran, wedang kopi pahit, wedang kopi manis, jenewer, rokok/cerutu, rujak degan, rujak dheplok, arang-arang kemanis, padi, tebu, pedupaan, candu (impling), nangka sabrang, gecok mentah, ulam mripat, ulam jerohan, gereh mentah.
Berbagai macam sesaji tersebut disertakan dalam seluruh rangkaian upacara: Midodareni, Kirab Bekakak, Penyembelihan Bekakak, dan Sugengan Ageng. Sesaji yang merupakan wujud dari persembahan dalam Upacara Bekakak menjadi bagian penting yang tak dapat dipisahkan dengan upacara Saparan ini.

  1. Upacara Bekakak diselenggarakan dengan tujuan untuk berkomunikasi dengan ‘kekuatan yang tidak nampak’ (communicating with unseen forces).
Bekakak berarti korban penyembelihan hewan atau manusia. Bekakak pada saparan ini hanya tiruan manusia saja, berujud boneka pengantin dengan posisi duduk bersila yang terbuat dari tepung ketan, merupakan simbol sepasang temanting yang dikurbankan bagi keselamatan masyarakat.
Penyelenggaraan upacara Bekakak bertujuan untuk menghormati arwah Kiai dan Nyai Wirosuto sekeluarga yang meninggal terkubur oleh reruntuhan Gunung Gamping. Masyarakat sekitar meyakini bahwa jiwa dan arwah Ki Wirosuto tetap ada di Gunung Gamping. Kiai Wirosuto adalah abdi dalem penongsong, pembawa payung kebesaran Sri Sultan Hamengku Buwana I.
Menurut legenda, upacara Bekakak bermula akibat musibah yang menimpa Ki Wirosuto dan keluarganya pada masa pembangunan Kraton Jogja. Ki Wirosuto adalah satu dari tiga bersaudara dengan Ki Wirojombo, dan Ki Wirodono yang merupakan abdi dalem HB I yang sangat dikasihi. Ketiga abdi dalem erat hubungannya dengan peristiwa lolosnya HB I dari Kraton Solo saat melawan Belanda.
Pada tahun 1755, Kraton Jogja dibangun oleh Sri Sultan HB I. Ketika pembangunan sedang berlangsung, para abdi dalem tinggal di pesanggrahan Ambarketawang, kecuali Ki Wirosuto yang memilih tinggal di sebuah gua di Gunung Gamping. Pada bulan purnama, antara tanggal 10 dan 15, pada hari Jumat, terjadi musibah. Gunung Gamping longsor. Ki Wirosuto dan keluarganya tertimpa longsoran dan dinyatakan hilang karena jasadnya tidak ditemukan.
Hilangnya Ki Wirosuto dan keluarga di Gunung Gamping ini menimbulkan keyakinan pada masyarakat sekitar bahwa jiwa dan arwah Ki Wirosuto tetap ada di Gunung Gamping. Ki Wirosuto memiliki 4 putra dan putri yang terdiri Raden Bagus Gombak, Raden Bagus Kuncung dan Embok Roro Ambarsari serta Ambarsekar serta 2 pembantu yang dikenal sebagai Kyai dan Nyai Brengkut.
Kedua putranya menguasai semua kekayaan yang tumbuh di Gunung Gamping. Sedang kedua putrinya menguasai air dan bunga-bunga. Adapun pembantunya juga mendapatkan kekuasaan, yaitu menjaga pembakaran batu gamping yang dilakukan penduduk. Ketika terjadi musibah itu, 3 binatang kesayangannya (merpati memakai sawangan, puyuh bergelang emas dan landak berkalung sapu tangan merah) serta seorang wanita penduduk setempat selamat.
Semenjak itu, penduduk yang akan memanfaatkan batu-batu gamping pun dipercaya harus mendapatkan ijin dari Ki dan Nyi Wirosuto. Upacara Saparan yang sekarang ini adalah untuk mendapatkan selamat dari Ki Wirosuto sekeluarga. Upacara Saparan semula bertujuan untuk menghormati kesetiaan Ki dan Nyi Wirosuto kepada Raja HB I. Tapi kemudian berubah dan dimaksudkan untuk mendapatkan keselamatan bagi penduduk yang mengambil batu gamping agar terhindar dari bencana. Sebab pengambilan batu gamping cukup sulit dan berbahaya (www.disbudpar-diy.go.id). Dari uraian tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa Upacara Bekakak diselenggarakan untuk berkomunikasi dengan ‘kekuatan yang tidak nampak’ (communicating with unseen forces) yang merupakan salah satu ciri seni primitive.

  1. Rangkaian Upacara Bekakak menyajikan sesuatu yang misterius menjadi lebih konkrit dalam kehidupan (Makes mysterious more real life). 
Pelaksanaan upacara  Saparan Gamping tergolong rumit, mulai dari pembuatan Bekakak dan Gendruwo / Wewe, Midodareni Bekakak, Kirab Temantin, Menyembelih Pengantin Bekakak,  Sugengan Ageng yang diselengarakn di tempat berbeda-beda disesuaikan dengan pelaksanaan upacara. Perwujudan pengantin Bekakak, Gendruwo, Wewe, dengan berbagai sajian dan prosesi upacaranya menyajikan sesuatu yang misterius menjadi lebih konkrit dalam kehidupan nyata yang memberikan indikasi pengaruh dari cirri-ciri karya kebuduyaaan / kesenian primitive.
Persiapan penyelenggaraan upacara dibagi dalam dua macam yaitu saparan bekakak dan sugengan ageng. Persiapan untuk saparan bekakak terutama pembuatan bekakak dari tepung ketan dan membuat sirup kelapa (juruh), yang memakan waktu ±8 jam. Kekhususan yang tidak dapat dilanggar sampai saat ini, yaitu pelaku yang menyiapkan bahan mentahnya tetap para wanita, sedang yang mengerjakan pembuatan bekakak adalah para pria.
Pada saat pembuatan tepung diiringi gejog lesung atau kothekan yang memiliki bermacam-macam irama antara lain, kebogiro, thong-thongsot, dhengthek, wayangan, kutut manggung dan lain-lain. Apabila penumbukan beras telah selesai, kemudian dilakukan pembuatan bekakak, gendruwo, kembang mayang, dan sajen-sajen, di satu tempat yaitu di rumah Bapak Roesman (panitia).
Bentuk bekakak laki-laki dan perempuan dengan bentuk pengantin pria dan wanita pada umumnya dua pasang pengantin bekakak dengan sepasang bergaya Solo, dan sepasang bergaya Yogyakarta. Adapun pengantin laki-laki yang bergaya Solo dihias dengan ikat kepala ahestar berhiaskan bulu-bulu, leher berkalung selendang merah, dan kalung sungsun berkain bangun tulak, sabuk biru, memakai slepe. Mengenakan keris beruntaikan bunga melati, dan kelat bau. Sedangkan yang wanita memakai kemben berwarna biru, berkalung selendang merah dan kalung sungsun. Wajah dipaes, gelung diberi bunga-bunga dan mentul, di bahu diberi kelat bahu dan memakai subang. Adapun pengantin laki-laki yang bergaya Yogyakarta, dihias dengan penutup kepala kuluk berwarna merah, berkalung selendang (sluier) biru dan kalung sungsun, sabuk biru dengan slepe, kain lereng, berkelat bahu dan bersumping, kemben hijau, kalung selendang biru (bangu tulak).
Sedangkan prosesi upacra sebagai berikut: Midodareni Bekakak, Kirab Pengantin Bekakak, Nyembelih Pengantin Bekakak, Sugengan Ageng.
a.      Midodareni Bekakak:
Meskipun bekakak ini, berujud pengantin tiruan, tetapi menurut adat perlu juga memakai upacara midodareni. Kata midodareni bersal dari bahasa Jawa widodari yang berarti bidadari. Di sini terkandung makna bahwa pada malam midodareni para bidadari turun dari surga untuk memberi restu pada pengantin bekakak. Tahap upacara ini berlangsung pada malam hari (kamis malam) dimulai ± jam 20.00. dua buah jali berisi pengantin bekakak dan sebuah jodhang berisi sesaji disertai sepasang suami istri gendruwo dan wewe, semua diberangkatkan ke balai desa Ambarketawang dengan arak-arakan.
Adapun urutan barisan arakan dari tempat persiapan ke balai desa Ambarketawang sebagai berikut : - barisan pembawa umbul-umbul - barisan peleton pengawal dari Gamping tengah - joli pengantin dan jodhang - reyog dari Gamping kidul - pengiring yang lain. Kemudian semua jali dan lain-lain diserahkan kepada Bapak kepala Desa Ambarketawang. Pada malam midodareni itu, diadakan malam tirakatan seperti hanya pengantin benar-benar, bertempat di pendhopo ataupun diadakan pertunjukan hiburan wayang kulit, uyon-uyon, reyog. Di rumah Ki Juru Permono diadakan pula tahlilan yang dilaksanakan oleh bapak-bapak dari kemusuk kemudian dilanjutkan dengan malam tirakatan yang diikuti oleh penduduk sekitar. Di pesanggrahan Ambarketawang juga diadakan tirakatan.

b.      Kirab Pengantin Bekakak:
     
Gambar 2 & 3:
‘Gendruwo’ selalu dibuat baru setiap tahun.

Tahap ‘kirab’ pengantin bekakak ini merupakan pawai atau arak-arakan yang membawa jali pengantin bekakak ke tempat penyembelihan. Bersama dengan ini diarak pula rangkaian sesaji sugengan Ageng yang dibawa dari Patran ke pesanggrahan. Juga diarak ke balai desa terlebih dahulu.
Adapun urut-urutan arakan / pawai upacara tradisional saparan bekakak sebagai berikut:
- reyog dan jathilan dari Patran
- sesaji sugengan Ageng
- barisan prajurit dari Gamping tengah membawa umbul-umbul memakai celana hitam kagok, berkain, baju lurik, destalan, seperti prajurit Daeng. Mereka membawa seruling, genderang dan bende.
- prajurit putri membawa perisai, pedang, mengenakan baju berwarna-warni, celana anjang cinde dan berkain loreng.
- rombongan Demang dan kawan-kawan. Demang tersebut mengenakan kain, baju beskap hitam, memakai selempang kuning.
- jagabaya berkain, baju beskap hitam, memakai serempang merah.     
- kaum atau rois, mengenakan kain berbaju surjan memakai serempang putih.

Gambar 4: “Gendruwo”
- pembawa tombak berbungkus cindhe beruntaikan bunga melati, mereka mengenakan celana hitam kagok, baju lurik, iket wulung, berselempang cindhe. Tiga pemudi mengenakan kain lurik ungu, baju hijau, memakai selempang merah, masing-masing membawa tiruan landak, gemak, merpati.
- barisan pembawa tombak, memakai celana merah, baju lurik merah, iket berwarna merah jingga.
- peserta bapak-bapak yang berkain berbaju surjan seragam warna merah, memakai sampur berwarna-warni.
- prajurit anak-anak, laki-laki perempuan membawa jemparing (panah).
- joli sesaji (jodhang) yang dibawa oleh petugas memakai seragam hitam kagok, baju merah iket biru.
- barisan selawatan
- joli bekakak Gunung Kliling.- barisan yang membawa kembang mayang, cengkir, bendhe, tombak, dan luwuk semua dipayungi.
- barisan berkuda
- barisan pembawa panji-panji berwarna-warni yang mengenakan kain, baju surjan biru muda dan iket hitam.
- tiga pemudi membawa banyak dhalang, sawung galing, ardawalika
- tiga orang pemuda membawa padupaan dan bunga-bunga diikuti pembawa alat musik genderang, seruling dan mung-mung.
- prajurit Gamping Lor, diikuti prajurit, putri yang membawa panah, disusul lagi mereka yang membawa pedang panjang.
- jali sesaji (jodhang) yang dibawa oleh petugas memakai seragam celana hitam kagok, baju merah iket biru.
- jathilan dari patran
- prajurit Gamping Kidul, ada yang memakai topeng buron wana (landhak, kerbau, garuda) ada yang membawa tombak bertrisula, tombak biasa.
- reyog Gunung Kidul (seperti badhak merak)


c.       Penyembelihan Pengantin Bekakak

                                        

Gambar: 5,6,7.
Upacara Penyembelihan Bekakak

Apabila arak-arakan telah tiba di Gunung Ambarketawang, maka joli pertama yang berisi sepasang pengantin bekakak, diusung ke arah mulut gua. Kemudian ulama (kaum) memberi syarat agar berhenti dan memanjat doa. Selesai pembacaan doa, boneka ketan sepasang pengantin itu disembelih dan dipotong-potong dibagikan kepada para pengunjung demikian pula sesaji yang lain. Arak-arakan kemudia dilanjutkan menuju Gunung Kliling untuk mengadakan upacara penyembelihan pengantin bekakak yang kedua dan pembagian potongan bekakak yang kedua kepada para pengunjung.